Detik-Detik Rasulullah Dijemput Sakaratul Maut

Wednesday, January 4, 2012 ·

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah; “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan
penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat Penghantar Wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat rasa maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan-akan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya, “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” – “Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan, “Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku…” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma solli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi… Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Message

Komen Terkini

    Recent Comments Widget by Jom Bina Belog

Logo

Logo
    Ya Allah tambahkanlah bagi kami rezeki yang banyak lagi halal, imam yang benar, ilmu yang bermanfaat, kesihatan yang elok, kecerdikan yang tinggi, hati yang bersih dan kejayaan yang besar dunia dan akhirat. Ya Allah terima kasih atas kehidupan kami, nafas kami, rezeki kami & segala2nya yang kau limpahkan kepada kami, kami mohon seandainya kami tak memiliki cukup waktu untuk membahagiakan orang tua kami, adik-beradik kami, jiran2 kami, sahabat2 kami dan orang2 yang kami sayang, satu pinta kami bahagiakan mereka dengan kasih sayangMu, berikan juga kami kekuatan untuk menghadapi hari2 kami. Ya Allah menangkanlah perjuangan saudara-saudara kami di Libya, Syria, Yaman, Mesir, Tunisia, Afganistan, Iraq, Palestine, Myanmar dan di seluruh dunia tumbangkanlah musuh-musuhMu yang telah menindas mereka. Aaminn... "Sesungguhnya, solatku, ibadahku, hidup dan matiku, aku serahkan hanya kepada Allah Ta'ala yang mentadbir seluruh alam. Sekali-kali tidak ada selain bagi-Nya; dan dengan demikian aku diperintahkan, dan aku adalah dari golongan orang-orang Islam" Demikianlah sebahagian dari ikrar kita terhadap Allah Ta'ala lima kali sehari. Justeru itu berhati-hatilah dengan ungkapan kata kita. Kerana sesungguhnya kufur terhadap Allah Ta'ala bilamana kita mengeluarkan kata-kata hidup dan mati kita adalah selain kepada Allah Ta'ala.
    Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S.An-Nahl (16) : 97).
    Sabda Rasulullah Sollallahhu'alaihiwasallam: “Barangsiapa yang berselawat ke atasku dengan sekali selawat nescaya Allah Ta'ala akan berselawat ke atasnya sepuluh kali”. (HR Muslim)... Sudahkah anda mencintai dia?Menyintai siapa??Dia ialah Rasulullah Sollallahhu'alaihiwasallam,Nabi junjungan kita.Seorang hamba dan kekasih Allah Ta'ala yang senantiasa mengangkat tinggi darjat kita sebagai ummatnya,yang senantiasa memuliakan diri kita sebagai ummatnya,yang senantiasa menangis,risau akan nasib diri ummatnya apabila beliau sudah tiada,akan tetapi,apa yang telah dan akan kita lakukan terhadap apa yang telah Baginda lakukan?sangat-sangatlah jauh terasa akan diri ini,tertinggal jauh untuk menyayangi dan mencintai diri Baginda yang Agung.Mengalir air mata ini, bahawa diri ini,sudah mula lupa untuk mencintai Dia.

Follow by Email

Advertisement

Kopi Mineral

Bio Aura

Visitors & Followers

Profile Siakappaka

My photo
Blog memancing, mengenali spesies-spesies ikan & utility fansite
widgets